Jejak Hijau Bung Karno, Teguran Keras Bagi Kita

Redaksi 01 Metrotv9news 27 Mei 2026

*Jejak Hijau Bung Karno, Teguran Keras Bagi Kita*

(Sebuah Refleksi)

Oleh Muhammad Kholidi*

DENPASAR -Di tanah suci Arab Saudi, tepatnya di kawasan Padang Arafah, berdiri tegak barisan pohon rindang yang kini dikenal dengan nama Pohon Soekarno. Pohon jenis Mimba atau Melia Azedarach itu bukan sekadar tanaman biasa, melainkan warisan pemikiran besar dari Presiden pertama Republik Indonesia. Tahun 1955, saat berhaji, Bung Karno melihat kawasan itu gersang, tandus, dan terik matahari menyengat tanpa ada tempat berteduh. Beliau mengusulkan penanaman ribuan bibit pohon dari Indonesia karena jenis ini tahan panas, hemat air, dan sangat cocok untuk menghijaukan lahan kering. Kini, puluhan tahun berlalu, pohon-pohon itu tumbuh kokoh, memberi keteduhan bagi jutaan jemaah haji setiap tahunnya. Di sana, nama besar Soekarno terpatri bukan hanya karena kepemimpinannya, tetapi karena kepeduliannya bahwa alam dan manusia harus hidup berdampingan, saling menjaga, dan saling memberi manfaat.

 

Namun, jika kita menoleh ke tanah air sendiri hari ini, hati rasanya sesak melihat kenyataan yang sangat kontradiktif. Mata ini melihat betapa luasnya hutan-hutan kita kini gundul, terbuka, dan telanjang. Alasan utamanya selalu sama: demi kepentingan ekonomi, demi lahan industri, perkebunan, pertambangan, atau pembangunan infrastruktur. Hutan yang dulunya paru-paru dunia dan benteng kehidupan, kini ditebang habis seolah tidak memiliki nilai lain selain apa yang bisa diambil dan dijual saat itu juga.

 

Data menunjukkan betapa mengkhawatirkannya laju kerusakan ini. Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir saja, Indonesia kehilangan hutan seluas rata-rata 400.000 hingga 500.000 hektare setiap tahunnya. Itu artinya, setiap tahun kita kehilangan hutan seluas gabungan kota-kota besar. Contoh paling nyata bisa kita lihat di pulau Kalimantan dan Sumatera. Hutan hujan tropis yang menjadi rumah bagi orangutan, harimau Sumatera, dan gajah, kini terpecah belah menjadi lahan perkebunan sawit dan kawasan pertambangan. Di beberapa wilayah di Kalimantan Tengah dan Selatan, kerusakan hutan rawa gambut begitu parah hingga tanahnya kering, mudah terbakar, dan sulit dikembalikan seperti semula. Di Jawa pun, lereng-lereng gunung yang seharusnya dilindungi, banyak berubah fungsi menjadi lahan bangunan atau pertanian sembarangan karena tekanan kebutuhan ekonomi.

 

Akibatnya? Alam tidak diam saja. Kerusakan ini berbalik menjadi bencana yang menimpa kita sendiri. Banjir yang datang lebih sering dan airnya makin tinggi, longsor yang menimbun desa-desa di kaki bukit, kekeringan panjang yang membuat sumur warga kering, hingga kebakaran hutan yang asapnya menutupi langit dan meracuni udara kita berbulan-bulan. Semua ini bukan sekadar kebetulan, melainkan dampak langsung ketika kita memaksa alam memberi lebih dari apa yang ia mampu berikan.

 

Namun, sebagai penulis, saya ingin menegaskan pandangan ini dengan tegas: Saya sama sekali bukan anti-industri, bukan pula anti-kemajuan ekonomi. Justru saya meyakini bahwa kemandirian ekonomi dan pembangunan industri adalah sebuah keharusan bagi sebuah bangsa untuk maju, sejahtera, dan berdaulat. Kita tidak bisa menutup mata bahwa pembangunan diperlukan untuk membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan rakyat, dan memajukan teknologi. Tanpa industri dan ekonomi yang kuat, sebuah negara akan tertinggal dan sulit menyejahterakan rakyatnya.

 

Masalah utamanya bukanlah pada adanya industri atau pembangunan itu sendiri, melainkan pada cara kita melakukannya. Kita seringkali terjebak pada pola pikir “ambil dulu, pikirkan nanti”. Padahal, kemajuan ekonomi dan kelestarian alam bukanlah dua hal yang harus bertentangan atau saling membunuh. Keduanya bisa berjalan beriringan, asalkan kita memiliki kebijaksanaan.

 

Bijak dalam mengelola alam artinya: menebang tapi menanam kembali dengan lebih banyak, membangun tapi tidak merusak daerah tangkapan air, mengolah kekayaan alam tapi memastikan ekosistem tetap lestari, dan memproduksi barang tanpa meninggalkan limbah yang meracuni bumi. Seperti pemikiran Bung Karno yang menanam pohon di Arafah agar bumi itu teduh, kita pun seharusnya membangun ekonomi dengan cara yang membuat bumi ini tetap hidup.

 

Kekayaan alam itu memang untuk dikelola demi kesejahteraan manusia, tetapi ingatlah satu hal: alam tidak butuh manusia untuk bertahan hidup, manusialah yang sangat butuh alam untuk bertahan hidup. Maka, jangan sampai keserakahan jangka pendek merampas masa depan panjang anak cucu kita. Mari belajar dari Pohon Soekarno: berkaryalah, bangunlah, dan jadilah bermanfaat, namun selalu berikan keteduhan dan kebaikan bagi alam di mana kita berpijak.

 

*adalah mantan

– Jurnalis & Kontributor KabarIndonesia,Majalah Khittah, KabarID.com

– Wakil Sektretaris LTN NU Jember

– Peserta Aktif Lingkar Muda Nahdlatul Ulama’ Jember

– Founder Youth Initiative Institue

– Wakil Ketua 1 PC IPNU Jember

– Aktifis PEDAL (Peduli Alam dan Lingkungan) Jember sampai sekarang.

Pewarta: Redaksi

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Sosialisasi Hari Hak untuk Tahu di CFD Jakarta, Perkuat Edukasi Informasi Publik

Redaksi 01

27 Sep 2026

JAKARTA || METROTV9NEWS – Divisi Humas Polri menggelar sosialisasi hak untuk tahu di tengah car free day (CFD) Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (27/9/2026) pagi. Kegiatan ini digelar untuk memperingati Hari Hak untuk Tahu Sedunia 2026 sekaligus menunjukkan komitmen Polri dalam mengimplementasikan keterbukaan informasi. ‎Kabag Yaninfodok Biro PID Divisi Humas Polri Kombes Pol Komang Suartana …

Ulama Jadi Kompas, Polri Jaga Rasa Aman: Kapolri Teguhkan Kolaborasi untuk Bangun Negeri

Redaksi 01

27 Sep 2026

REMBANG || METROTV9NEWS – Pembangunan membutuhkan ruang yang aman, sementara keamanan membutuhkan persatuan yang terus dirawat. Dalam upaya tersebut, ulama dan umara memiliki peran berbeda tetapi saling menguatkan: ulama memberikan arah dan tuntunan, sedangkan Polri menjaga keamanan agar masyarakat dapat beraktivitas dan pembangunan terus berjalan. Pesan itu disampaikan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, …

Polres Blitar dan Tim Gabungan Intensifkan Patroli Pemantauan, Antisipasi Karhutla Gunung Butak

Redaksi 01

27 Sep 2026

BLITAR || METROTV9NEWS – Jajaran Polres Blitar Polda Jatim bersama tim gabungan terus mengintensifkan patroli pemantauan dan pengendalian guna mengantisipasi munculnya titik api di kawasan Gunung Butak. Langkah taktis ini dilakukan oleh personel yang bersiaga di Posko Hutan Lindung BKPH Ampelgading, tepatnya di sisi lereng selatan Puncak Pitrang, dari arah Puncak Langit, Desa Tunggorono, Kecamatan …

Kapolri: Sinergi Ulama dan Umara Jadi Kekuatan dalam Membangun Bangsa

Redaksi 01

27 Sep 2026

REMBANG || METROTV9NEWS – Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan umara dalam membangun bangsa. Kebersamaan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan Indonesia sejak masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Hal itu disampaikan Kapolri saat menghadiri Ngaji Kebangsaan bersama KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha di Rembang, …

Polantas KARIB, Kapolri Dorong Teknologi Jadi Jembatan Pelayanan yang Lebih Dekat dengan Masyarakat

Redaksi 01

27 Sep 2026

JAKARTA || METROTV9NEWS – Memasuki usia ke-71, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri terus memperkuat perannya sebagai salah satu wajah pelayanan Polri yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Transformasi diarahkan bukan hanya pada modernisasi sistem, tetapi juga membangun pelayanan yang semakin mudah, responsif, dan berorientasi pada keselamatan. Arah tersebut tercermin dalam Syukuran Hari Lalu Lintas …

Polres Gresik Gencarkan Inovasi Kopi Keliling, Bangun Kedekatan dengan Warga Ajak Jaga Kamtibmas

Redaksi 01

27 Sep 2026

GRESIK || METROTV9NEWS – Upaya menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif terus digalakkan Polres Gresik Polda Jatim lewat pendekatan humanis. Salah satunya diwujudkan oleh Satuan Binmas (Satbinmas) melalui program Kopi Keliling. Kegiatan ini dikemas santai. Sembari membagikan kopi gratis, personel Satbinmas berbaur langsung untuk mencairkan suasana di tengah aktivitas warga. Melalui ruang …

x
x